Fiqri Yuda Adam

Aku berpikir maka aku ada…

(Repost) Kisah Pohon Apel dan Seorang Anak

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.

Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.

Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo kesini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.

“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Aduh, maaf aku pun tak punya uang…, tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya.

Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.

” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.

Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi.

Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harusbekerja untuk keluargaku.

Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal.Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah.

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.

Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.

Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.

“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar.

Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuh ku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.

Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

“Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”

“Tak apa, Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.

“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.

Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.

“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat.

Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”

“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat.

Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki itu berbaring dipelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan airmatanya…

Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita…

12 January 2012 at 01:05 - Comments

Kebodohan Profesor yang Menganggap Agama Sebuah Mitos

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini.

“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab,
“Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.

Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab,
“Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”

Profesor itu menjawab, “Tentu saja gelap itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab,
“Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.”

“Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna.”

“Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab,
“Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,

“Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.”

“Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.

Dan mahasiswa itu adalah,

Albert Einstein

Sumber:

http://www.apakabardunia.com/2011/02/kebodohan-profesor-yang-menganggap.html

9 July 2011 at 15:47 - Comments

BikePacker (#1)

Trip to Bukit Patuk Gunung Kidul (a.k.a Bukit Bintang) 4 Juli 2009


Tikungan Bukit Patuk (rawan kecelakaan)

Rehat bentar :P
(sambil nunggu macet akibat perbaikan jembatan)

Akhirnya nyampe juga… *fiuh

Brunch di salah satu warung dipinggi jalan :P

Es kelapa muda+magelangan. Yummy…
(total cost 9.000 rupiah)

Foto-foto dulu :)

Bukit Bintang di tengah hari

(ga kalah bagus pemandanganya dibandingkan malam harinya kan?) :)

Serasa rossi :P

Naik  sampai ke Puncak Bukit Patuk 3 Jam lebih, turunnya ga sampai 5 menit…

(foto diambil dari belakang sambil tetep bersepeda, jgn ditiru ye :P )

22 May 2011 at 14:15 - Comments

Seni menghadapi Ejekan dari orang lain

Dalam kehidupan pasti sudah tidak asing kan dengan namanya ejekan?
Ejekan biasanya dilakukan seseorang kepada orang lain atau suatu hal ketika ada seseorang atau hal lain yang dianggap aneh dan menurutnya lucu , tidak sesuai dan asing bagi dirinya. Seseorang sering diejek, dihina bahkan “dijatuhkan” oleh orang lain karena orang lain menganggap kita memiliki suatu yang melekat di dirinya yang dianggap oleh orang lain tidak sesuai. Misalnya : dari segi bentuk fisik, perilaku, Style, dan masih banyak hal lainnya.

Terkadang orang yang mengejek sering diluar batas kewajaran dan cenderung menyakitkan dan menjatuhkan orang lain secara kasar. Tapi tidak ada hal yang tidak bias diatasi, temasuk Menerima ejekan dari orang Lain. Ejekan juga tidak harus disikapi dengan emosional tinggi (marah, dll) tapi kita harus membuat ejekan itu menjadi suatu seni. Penasaran bagaimana caranya? Berikut Tipsnya:

1.Jangan Terpancing Emosi Ketika diejek oleh orang lain

Ketika kita diejek oleh orang lain, maka kita jangan terpancing emosi. Karena orang lain akan meneruskan ejekannya, dikemudian hari, karena hal itu dianggap berhasil membuat anda seolah olah “ejekan itu sesuai” dengan pribadi anda.
MAKA DARI ITU KONTROL EMOSI!

Contoh kasus :
Ketika ditempat umum anda dijatuhkan oleh orang lain :
“Eh kamu itu udah bau, jarang mandi, ga pernah pakai minyak wangi, adudududu”
-Anda jangan marah, respon aja gini :
“hahaha, gapapa dong, gue ga mubadzirin semuanya, daripada kamu, sering mandi masih bau, sering pakai minyak masih bau” (posisi ini anda skrg malah diatas, dan orang yang ngehina anda malah merasa terjatuhkan)

2. Jangan Merasa Minder dan merasa terpuruk

Ketika diejek kita jangan minder dan terpuruk, sekali lagi buat hal itu jadi seni dan dijalanin Have Fun aja

Contoh :
-Ketika kita diejek di depan teman-teman atau ketika maju ke forum, didepan kelas, karena kekurangan kita ,atau kesalahan yang kita lakukan, janganlah anda grogi, minder yang membuat anda jadi dalam keadaan terpuruk, tapi cukup anda respon dengan senyum atau bilang saja itu sebagai intermezzo.
-Kalau kita merasa malu, pasti akan diejek terus menerus!!

3.Ketika kita diejek, ambil celah, lalu respon balik, buat dia malu dengan kata ejekan yang dia lontarkan.

Contoh :

- Misalnya kita membeli barang :
Anda : “mbak, ada Hp E63 second”
Mbak : “ada mas” (sambil menunjukkan hp nya)
Anda: “kok hpnya udah banyak banget lecetnya mbak? Yang lain ada?”
Mbak: (senyum sinis) “ga ada mas, kalau mau kualitas bagus ya beli baru aja”
(mencoba menjatuhkan kita)
Anda : (jawab dengan gunakan kata* mbk td) “kalau saya mau beli baru,
gengsi dong mbak beli disini”
Mbak ; $$$$$$$$$ (pasti malu g bsa jawab)

-Misalnya ketika dikampus atau dikelas dihina fisik atau style kita

Temen : “eh, gue pengen muntah”
Anda : “knp?”
Temen : “gara gara liat model rambut dan style loe hari ini !”
Anda : (anda jangan malu dan merasa terjatuhkan, respon balik aja)
“kenapa? Gue manis banget yak kok loe mau muntah ? ”
Temen :
“….”

Contoh 2 :

Temen : “muka lo hari ini kok jelek banget sih”
Anda :  “iya kah?”
Temen : “beneran suer !”
Anda : “gpp lah, Cuma hari ini gue jelek, daripada loe dari kemaren kemaren
jelek terus”
Temen : “…..”

4. Jangan Merasa kita Kalah, Ketika kita diejek
Kalau kita merasa kalah, orang lain justru semakin melunjak dan semakin mengejek kita !

Contoh :

Kasir Toko : “eh mas, ga ada kembaliannya 500 nih gmana?”
Anda : “permen ga ada mbak?”
Kasir : “abis mas, gmana g usah aja ya (suasana toko ramai) masa uang
Cuma500 Didebat sih mas(tertawa sinis)?( mencoba menjatuhkan
anda)”
Anda: “Owh ia juga mbak, masa uang 500 didebat? Kalau gitu kasih aja uang
1000 aja mbak, dksh lbh gpp to, masa uang segitu didebat ?”
kasir : “….”

itu tadi beberapa tips menghadapi ejekan dari orang lain terhadap kita, peganglah 4 poin diatas, ketika anda diejek oleh orang lain. Selanjutnya gunakan 4 poin diatas untuk mengembangkan Kreatifitas anda, menghadapi Ejekan yang anda terima…

Selamat mencoba!!

sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8683939

21 May 2011 at 22:10 - Comments

Tren Budaya Kekerasan di Indonesia: Refleksi Tragedi Satpol PP dan Ormas

Kekerasan secara umum dipahami sebagai tindakan, perilaku, atau keadaan sosial yang mengakibatkan orang atau kelompok lain menderita, sengsara, terluka, bahkan meninggal dunia, selalu dipandang sebagai tindakan atau perbuatan tidak bermoral, tidak tidak manusiawi, dan merusak basis kehidupan manusia. Sedangkan budaya merupakan sebuah proses dan hasil karya rohani manusia menjadi lebih baik (manusiawi). Keduanya sama-sama telah menjadi bagian dari sejarah manusia sampai saat ini. Lantas pertanyaanya, bagaimana bisa kedua kata yang bertolak belakang maknanya tersebut kerap dijadikan satu menjadi “budaya kekerasan”?

Menurut Dawam Raharjo, istilah “budaya kekerasan” adalah sebuah contradiction in terminis. Agaknya istilah itu semula berasal dari ucapan menyindir bahwa “kekerasan telah membudaya”. Maksudnya adalah bahwa kekerasan telah menjadi perilaku umum. Frekuensi pemberitaannya di media massa mempertegas bahwa gejolaknya sangat nampak dalam masyarakat. Tindak kekerasan yang umum terjadi bisa dilakukan secara individual maupun secara kolektif atau bersama-sama. Kekerasan yang dilakukan secara kolektif lebih berbahaya dibandingkan kekerasan yang dilakukan secara individual. Karena selain jumlah pelakunya lebih banyak, juga karena efek yang ditimbulkan lebih destruktif. Tren tindak kekerasan yang dilakukan secara kolektif yang paling menonjol saat adalah tindak kekerasan yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).

Masih jelas diingatan kita tentang pertikaian berdarah antara Satpol PP dengan warga di daerah Jakarta Utara. Kekerasan yang memakan korban aparat dan warga kembali jadi pilihan saat sekitar 2.000 polisi pamong praja mencoba menggusur kompleks makam Mbah Priok, di Jakarta Utara. Permasalahan ini seharusnya bisa diselesaikan dengan “kepala dingin”. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya  Tindakan represif ditunjukan oleh kedua belah pihak ini mengakibatkan jatuhnya tiga orang korban jiwa di pihak Satpol PP. Sehari sebelumnya kerusuhan juga pecah saat Satpol PP Kota Tangerang menggusur pemukiman warga Cina Benteng, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari (TEMPO Interaktif,15/4/2010).

Tindak kekerasan yang dilakukan oleh Satpol PP merupakan sebuah tragedi yang patut kita sayangkan. Bagaimana tidak, tragedi tersebut dilakukan oleh pihak yang paling berkuasa, yaitu negara. Inilah yang menghasilkan apa yang disebut sebagai kekerasan struktural, yaitu kekerasan yang digunakan oleh struktur kekuasaan yang dapat berupa aparat, tentara, pemerintah, dan atau birokrasi. Peradaban moderen memang secara de jure dan de facto memberi wewenang kepada negara sebagai satu-satunya institusi yang memiliki legitimasi melakukan kekerasan. Padahal kekerasan adalah tetap kekerasan yang memiliki unsur pemaksaan, destruksi, dan pengingkaran sebagian atau seluruh kebebasan, dan tidak menjadi soal siapa pelakunya. Bentuk-bentuk kekerasan ini antara lain, beating, (arbritrarily) killing, illegal detention, robbing, (systematic) raping, assaults on civilian, forced relocation, torturing, indiscriminate use of weapon, isolation, stigmatization, blocking acces, dan election fraud. Apa yang dilakukan oleh Satpol PP di dua contoh kasus diatas bisa dikategorikan penggunaan kekerasan kepada masyarakat sipil (assaults on civilian), dan relokasi secara paksa (forced relocation).

Sebenarnya tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparatur negara ini (Satpol PP) merupakan sedikit contoh dari “dosa-dosa” yang telah pemerintah lakukan sebelumnya. Dengan kilah penggunaan kekerasan sebagai alat pemeliharaan tertib sosial (order), pemerintah melakukan tindakan represif kepada pihak-pihak yang dianggap mengganggu ketertiban atau membahayakan stabilitas negara. Sejarah mengungkapkan bahwa pemerintahan ini dibesarkan dalam “budaya kekerasan”.  Tercatat peristiwa Madiun (1948), DI/TII (1960), PRRI/Permesta (1960), Peristiwa Aksi Sepihak (1964), Peristiwa G-30-S (1965), Pembunuhan Massal pasca G-30-S (1965-1966), Pemenjaraan, Penyiksaan, pembuangan massal pasca G-30-S (1966-1980), Pemenjaraan, Penyiksaan Kyai (1971), Peristiwa Tanjung Priok (1984), Peristiwa Talangsari (1989), Peristiwa Kudatuli (1996), Peristiwa Mei, Trisakti, Semanggi, Dukun Santet (1998), DOM Aceh (1980-2000), dan Tragedi Monas (2008) ditorehkan dalam lembar sejarah kelam bangsa ini. Jadi apa yang dilakukan oleh aparat pemerintah saat ini merupakan “warisan budaya kekerasan” dari pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Sungguh ironis melihat sebuah pemerintahan yang terbiasa menggunakan pendekatan kekerasan dengan warga negaranya sendiri. Terlebih apabila pendekatan tersebut tidak berani ditunjukan ketika berbicara mengenai kedaulatannya dihadapan bangsa lain yang jelas-jelas melecehkan harkat dan martabat bangsa ini.

Karena berlangsung secara terus menerus dan setiap saat maka manusia menjadi tidak peka bahkan menjadi mati rasa terhadap gejala kekerasan. Tindakan-tindakan kekerasan kemudian akan dianggap suatu kewajaran. Ketidakpercayaan yang timbul akibat tindakan oknum aparatur Negara, juga menciptakan rasa tidak aman di sebagian kalangan masyarakat. Rasa aman yang semestinya dijamin oleh pemerintah ternyata tidak didapatkan. Ini menjadi salah satu faktor mengapa masyarakat kemudian merasa perlu untuk menjaga diri, Bentuk perlindungan yang dapat dilakukan bisa berupa bergabung dalam suatu wadah komunitas, seperti organisasi kemasyarakatan (ormas).

Hakikat kehadiran organisasi kemasyarakatan (ormas) merupakan perwujudan kebebasan berserikat dan berkumpul sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 28 UUD 1945. Peran dan fungsinya lebih gamblang lagi dinyatakan dalam UU Nomor 8 Tahun 1985. Di dalam UU itu disebutkan salah satu fungsi ormas, yakni wadah penyalur kegiatan sesuai kepentingan anggotanya. Kepentingan disini salah satunya adalah jaminan keamanan. Tetapi pada kenyataannya, stigma kekerasan dan anarkis yang justru  dominan muncul. Pemberitaan media massa mengenai tindak anarkis yang dilakukan ormas umum didengar. Menurut Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri mengakui, kekerasan yang dilakukan ormas meningkat. Sepuluh kasus terjadi tahun 2007 dan turun menjadi delapan kasus pada tahun 2008. Pada tahun 2009, jumlah itu melonjak menjadi 40 kasus. Meski tahun 2010 belum berakhir, tindak kekerasan yang dilakukan ormas sudah mencapai 49 kasus. Contoh kasus kekerasan yang dilakukan oleh ormas yang santer terdengar  antara lain adalah pertikaian  perebutan wilayah kekuasaan oleh FBR dan Forkabi, pengerusakan properti dan intimidasi yang dilakukan oleh FPI, dan masih banyak lagi. Intimidasi, penyerangan, dan kekerasan yang acap dilakukan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lain seolah telah menjadi trademark ormas-ormas tertentu. Citra keras yang kerap dipertontonkan sebenarnya justru berefek buruk terhadap ormas itu. Simpati masyarakat yang diharapkan, tidak  terebut. Yang timbul justru rasa resah. Keresahan tersebut dipicu oleh kekhawatiran tindakan kekerasan yang kerap ditunjukkan.

Memang, citra yang terbentuk akibat dari tindakan dan kegiatan ormas yang mengusung agama, etnis, ideologi, hingga partai politik tertentu lekat dengan kekerasan, Hal ini membuat ormas  tersebut lama-kelamaan kurang mendapat simpati khalayak. Namun, beragam jenis ormas lain justru dinilai penting keberadaannya. Keberadaan berbagai ormas keagamaan, baik yang merangkul umat Islam, Kristen, Katolik, Buddha, maupun Hindu, masih dinilai sangat positif oleh masyarakat. Kondisi yang tidak jauh berbeda juga ditunjukkan terhadap keberadaan ormas yang berkecimpung dalam bidang-bidang kepemudaan, dinilai bermanfaat dalam kehidupan masyarakat. Di antara berbagai bidang ormas, penilaian terbesar kalangan masyarakat ditujukan terhadap peran ormas berbasis profesi, seperti profesi kedokteran, wartawan, dan profesi lain (Litbang Kompas, 2010).

Disadari atau tidak, kekerasan yang dilakukan oleh kedua elemen (yang semestinya) pendukung bangsa ini saling berkaitan. Pemerintah dalam hal ini Satpol PP yang “terbiasa” melakukan pendekatan kekerasan dengan dalih dalam melakukan usaha penertiban, telah memberikan legalitas untuk suatu bentuk kekerasan kepada masyarakat. Dan respon yang sama ditunjukan oleh masyarakat dengan berafiliasi kedalam ormas, yang tidak jarang juga menerapkan kultur kekerasan dalam prakteknya. Padahal hakikat keduanya dibentuk adalah untuk sama-sama berperan aktif dalam memajukan, membangun dan menjaga keamanan serta ketertiban bangsa. Apabila merujuk kepada apa yang dikatakan Lorenz (1966) yang menyebutkan bahwa manusia itu sebenarnya memiliki naluri (instinct) yang bersifat pembawaan (innate) yang senantiasa mencari kesempatan untuk tercetus/terlaksa dengan manifestasinya berupa tindak kekerasan. Maka kekerasan tersebut mungkin bisa dianggap wajar. Tetapi perlu kita sadari bahwa naluri tersebut bisa kita kendalikan. Inilah yang membedakan kita dengan hewan.

Akhirnya sebuah kata-kata bijak yang diungkapkan oleh Amstutz, “Ingatan bagi korban kekerasan masa lalu bukan hanya sekedar rekaman sebuah peristiwa, melainkan juga bentuk penagihan atas masa lalu yang pernah dideritanya sangat diperlukan untuk mendudukkan persoalan pada tempatnya untuk memulai hidup baru yang terbebas dari dendam sejarah”. Ingatan akan hal ini perlu disampaikan kepada generasi selanjutnya agar mereka dapat belajar untuk memahami derita akibat kekerasan yang menimpa orang lain. Berlapang dada memaafkan masa lalu, dan berupaya memutus kekerasan dengan menciptakan peradaban yang anti kekerasan adalah salah satu cara yang dapat kita tempuh.

Daftar Pustaka

Budaya Kekerasan Bangsa Indonesia Dalam Bentuk Kekerasan Ormas, dalam akuindonesiana.com, 6 September 2010

Diamond, Larry & Marc F Plattner, Nasionalisme, Konflik Etnik, dan Demokrasi, Bandung: Penerbit ITB, 1998.

Nasionalisme Refleksi Kritis Kaum Ilmuwan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Nurcahyono, Arinto, Kekerasan Sebagai Fenomena Budaya: Suatu Pelacakan Terhadap Akar Kekerasan di Indonesia, dalam jurnalnya.

Raharjo, M Dawam, Tantangan Indonesia Sebagai Bangsa; esai-esai kritis ekonomi,sosial, dan politik, Yogyakarta: UII Press, 1999.

Raharjanto, Sapto, Revitalisasi Ingatan Atas Budaya Kekerasan di Indonesia untuk Rekonsiliasi Anak Bangsa, dalam www.prakarsa-rakyat.org, 2009

25 October 2010 at 12:57 - Comments
beruangmadu
dear sdr fiqri, pemikirannya sangat menarik & penjabarannya bagus. mungkin ada baiknya kalau ditambah dg ide2 Johann Galtung ttg kekerasan. beliau membagi kekerasan ...
5 December 10 at 01:30
terimakasih atas saran dan masukan dari sdr/i beruangmadu. Memang inti dari tulisan saya ini masih sebatas membahas tentang kekerasan secara ...
5 January 11 at 11:39

50 Kebiasaan orang sukses *

Yang mana mau kita lakukan??? Atau sudah ada di diri kita..

50 kebiasaan orang sukses:

1.Carilah dan temukan kesempatan di mana saat orang lain gagal menemukannya.

2.Orang sukses melihat masalah sebagai bahan pembelajaranan bukannya kesulitan belaka.

3.Fokus pada solusi, bukan berkubang pada masalah yang ada.

4.Menciptakan jalan suksesnya sendiri dengan pemikiran dan inovasi yang ada.

5.Orang sukses bisa merasa takut, namun mereka kemudian mengendalikan dan mengatasinya.

6.Mereka mengajukan pertanyaan yang tepat, sehingga menegaskan kualitas pikiran dan emosional yang positif.

7.Mereka jarang mengeluh.

8.Mereka tidak menyalahkan orang lain, namun mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka.

9.Mereka selalu menemukan cara untuk mengembangkan potensi mereka dan menggunakannya dengan efektif.

10.Mereka sibuk, produktif, dan proaktif, bukan luntang-lantung.

11.Mereka mau menyesuaikan diri dengan sifat dan pemikiran orang lain.

12.Mereka memiliki ambisi atau semangat.

13.Tahu benar apa yang diinginkan.

14.Mereka inovatif dan bukan plagiat.

15.Mereka tidak menunda-nunda apa yang ada.

16.Mereka memiliki prinsip bahwa hidup adalah proses belajar yang tiada henti.

17.Mereka tidak menganggap diri sempurna sehingga sudi belajar dari orang lain.

18.Mereka melakukan apa yang seharusnya, bukan apa yang mereka mau lakukan.

19.Mereka mau mengambil resiko, tapi bukan nekat.

20.Mereka menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan segera.

21.Mereka tidak menunggu datangnya keberuntungan, atau kesempatan. Merekalah yang menciptakannya.

22.Mereka bertindak bahkan sebelum disuruh/ diminta.

23.Mereka mampu mengendalikan emosi dan bersikap profesional.

24.Mereka adalah komunikator yang handal.

25.Mereka mempunyai rencana dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan.

26.Mereka menjadi luar biasa karena mereka memilih untuk itu.

27.Mereka berhasil melalui masa-masa berat yang biasanya membuat orang lain menyerah.

28.Mereka tahu apa yang penting bagi mereka dan melakukan yang terbaik yang mereka bisa.

29.Mereka memiliki keseimbangan. Mereka tahu bahwa uang hanya alat, bukan segalanya.

30.Mereka paham betul pentingnya disiplin dan pengendalian diri.

31.Mereka merasa aman karena mereka tahu mereka berharga.

32.Mereka juga murah hati dan baik hati.

33.Mereka mau mengakui kesalahan dan tidak segan untuk minta maaf.

34.Mereka mau beradaptasi dengan perubahan.

35.Mereka menjaga kesehatan dan performa tubuh.

36.Mereka rajin.

37.Ulet

38.Mereka terbuka dan mau menerima masukan dari orang lain.

39.Mereka tetap bahagia saat menghadapi pasang surut kehidupan.

40.Mereka tidak bergaul dengan orang-orang yang salah/ merusak.

41.Mereka tidak membuang waktu dan energi emosional untuk sesuatu yang di luar kendali mereka.

42.Mereka nyaman bekerja di tempat yang ada.

43.Mereka memasang standar yang tinggi bagi diri sendiri.

44.Mereka tidak mempertanyakan mengapa mereka gagal namun memetik pelajaran dari itu semua.

45.Mereka tahu bagaimana harus rileks, menikmati apa yang ada, dan mampu bersenang-senang dalam kecerobohan sekalipun.

46.Karir mereka bukanlah siapa mereka, itu hanyalah pekerjaan.

47.Mereka lebih tertarik pada apa yang efektif ketimbang pada apa yang mudah.

48.Mereka menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.

49.Mereka menyadari bahwa mereka bukan hanya makhluk hidup belaka, namun juga makhluk rohani.

50..Mereka melakukan pada yang mereka katakan.

Jadi, apakah ada beberapa kebiasaan yang sudah menjadi bagian dari hidup Anda saat ini?! Jika ada, kembangkan itu, dan tambahkan peluang sukses Anda dengan melakukan yang lain. Ingat, sukses bukanlah milik orang yang tidak pernah gagal, melainkan milik orang yang tidak pernah menyerah Dalam rangka Hari Sumpah Pemuda, Maka kita sebagai Pemuda harus sukses. Sukses itu adalah hak kita,

*disadur dari DuniaPustaka.Org

5 July 2010 at 10:54 - Comments

101%*

From a strictly mathematical viewpoint:

What Equals 100%?
What does it mean to give MORE than 100%?

Ever wonder about those people who say they are giving more than 100%?

We have all been in situations where someone wants you to
GIVE OVER 100%.

How about ACHIEVING 101%?

What equals 100% in life?

Here’s a little mathematical formula that might help
answer these questions:

If:

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Is represented as:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26.

If:

H-A-R-D-W-O-R- K

8+1+18+4+23+15+18+11 = 98%

And:

K-N-O-W-L-E-D-G-E

11+14+15+23+12+5+4+7+5 = 96%

But:

A-T-T-I-T-U-D-E

1+20+20+9+20+21+4+5 = 100%

THEN, look how far the love of God will take you:

L-O-V-E-O-F-G-O-D

12+15+22+5+15+6+7+15+4 = 101%

Therefore, one can conclude with mathematical certainty that:

While Hard Work and Knowledge will get you close, and Attitude will
get you there, It’s the Love of God that will put you over the top!

* www.duniapustaka.net/2010/04/amazing-maths.html

18 June 2010 at 08:30 - Comments
terimakasih... seneng bisa berbagi:)
1 July 10 at 14:00
dipta
lah itu kalo orang inggris fiq sekarang coba liat ya... Ilmu = 9+12+13+21 = 55% Sikap = 19+9+11+1+16 = 56% yang paling ampoh ...
19 November 11 at 23:18

Menyerang intellectual cul-de-sac*

Intelllectual cul-de-sac adalah kebuntuan pemikiran saat kita akan berargumen atas sebuah keyakinan. Biasanya bukti akan terlihat selaras, namun kesimpulannya tidak benar.

7 cara menyerang intellectual cul-de-sac seseorang adalah ketika orang tersebut:

1. Fallacy of Dramatic Instance

Kecenderungan orang untuk melakukan over-generalisation, yakni penggunaan satu-dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum.

Ex:

Harry adalah mahasiswa UGM

Cahyo adalah mahasiswa UGM

Cahyo sudah punya anak

Jadi, Harry juga sudah punya anak

(karena keduanya mahasiswa ITB)

2. Fallacy of Restrospective Determinism

Argumen “kembali ke belakang” atau “historis”. Upaya untuk kembali pada sesuatu yang seakan-akan sudah ditentukan (determined) di dalam sejarah yang telah lalu.

Ex :

Mengapa pelacuran itu harus diberantas ? Sepanjang sejarah peradaban manusia, pelacuran memang sudah ada dan tidak bisa dibasmi. Daripada menghilangkan pelacuran, kita lokalisir saja agar dampak tidak masif. Sekali lagi pelacuran sudah ada sepanjang sejarah.

3. Post Hoc Ergo Propter Hoc

Argumen yang disusun berdasarkan prinsip : sesudah itu – karena itu – oleh sebab itu. Setiap kali ada peristiwa yang terjadi dalam urutan temporal, kita katakan bahwa yang pertama adalah sebab dari yang kedua.

Ex:

Susno Duadji ditahan setelah pembicaraan tertutup, maka penyebab ditahannya adalah hasil pembicaraan tertutup itu.

4. Fallacy of Misplaced Concretness

Kesalahan berpikir karena mencoba mengkonkretkan sesuatu yang pada hakikatnya abstrak.

Ex:

Penyebab kemunduran Islam adalah karena masih berada dalam sistem jahiliyah !

Apa itu sistem jahiliyah ? Mengubah sistem ? “siapa” sih sistem itu ? Kata abstrak kita coba untuk konkretkan

5. Fallacy of  Composition

Keyakinan bahwa terapi yang berhasil untuk satu orang pasti juga berhasil untuk semua orang.

Ex:

Dia sejak kecil di Pasantren, belajar agama dengan tekun, lalu jadi ulama. Dia baik hingga tua. Untuk itu ….. Belajarlah di pasantren, tekun belajar agama dan …. Jadilah ulama !

6. Argumentum ad Verecundiam

Berargumen dengan melulu menggunakan otoritas, sekalipun otoritas itu tidak relevan atau ambigu.

Ex :

Saya berpoligami karena sesuai dengan sunnah Nabi, jadi bila menentang maka anda menentang sunnah !

Masalahnya adalah = kita menentang tafsir dia atas sunnah, bukan menentang sunnah !

7. Fallacy Reasoning

Pemikiran yang berputar-putar, menggunakan konklusi (kesimpulan) untuk mendukung asumsi yang digunakan lagi untuk menuju konklusi semula.

Ex :

“Apabila organisasi dikembangkan dengan baik, maka program transmigrasi akan berjalan lancar !”

“apa bukti organisasi telah berjalan lancar ?”

“kalau programnya lancar,”

“artinya ?”

“pengembangan organisasinya baik !”

*Disadur dari hasil power point oleh Muhamad Sulhan, SIP, MSi, PhD. Cand ketika mengisi Training Debat di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Mei 2010

17 June 2010 at 16:33 - Comments
interesting article, I like it :)
26 June 10 at 21:23
terimakasih... seneng bisa berbagi :)
1 July 10 at 14:01

Masyarakat Madani Dan Lingkungan Dalam Contoh Kasus Illegal Logging

Pengertian Konsep Sebagai Pengantar

Makna dari sebuah konsep bertolak dari sebuah persetujuan, betapapun mungkin sementaranya adalah persetujuan. Tanpa adanya persetujuan awal, maka konsep yang dipakai itu hanya akan menjadi bahan perdebatan yang berkepanjangan dan bahkan mungkin kurang produktif. Karena itulah konsep “masyarakat madani” (MM) sebaiknya disetujui sebagai terjemahan dari civil society (CS). Terjemahan ini adalah pilihan berbagai macam kemungkinan lain, seperti “masyarakat sipil”, “masyarakat kewargaan”, “masyarakat warga”, “masyarakat beradab”, “masyarakat berbudaya”, dan lain-lain. Konsep Masyarakat Madani disini pada awalnya dikaitkan dengan “Masyarakat Medinah”, sebagaimana dirumuskan oleh “Konstitusi Medinah” di zaman Nabi Muhammad S.A.W, yang mana pada akhirnya dapat membawa kita pada perdebatan ideologis yang menuntut keharusan hegemoni. [1]

Pada hakekatnya versi terjemahan apapaun yang dipakai, hal yang terpenting pertama-tama harus kita sepakati adalah bahwa rujukan berpijak kita bertemu pada pemahaman konseptual yang sama.[2]

Pengertian Civil Society atau Masyarakat Madani

Menurut Ernest Gellner, Civil Society (CS) atau Masyarakat Madani (MM)merujuk pada mayarakat yang terdiri atas berbagai institusi non pemerintah yang otonom dan cukup kuat untuk dapat mengimbangi Negara.[3]

Menurut Cohen dan Arato, CS atau MM adalah suatu wilayah interaksi sosial diantara wilayah ekonomi, politik dan Negara  yang didalamnya mencakup semua kelompok-kelompok sosial yang bekerjasama membangun ikatan-ikatan sosial diluar lembaga

resmi, menggalang solidaritas kemanusiaan, dan mengejar kebaikan bersama (public good).[4]

Menurut Muhammad AS Hikam, CS atau MM adalah wilayah-wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan antara lain kesukarelaan (voluntary), keswasembadaan (self-generating), keswadayaan (self-supporing),dan kemandirian yang tinggi berhadapan dengan negara, dan keterikatan dengan norma-norma dan nilai-nilai hukum yang diikuti oleh warganya.[5]

Menurut M. Ryaas Rasyid, CS atau MM adalah suatu gagasan masyarakat yang mandiri yang dikonsepsikan sebagai jaringan-jaringan yang produktif dari kelompok-kelompok sosial yang mandiri, perkumpulan-perkumpulan, serta lembaga-lembaga yang saling berhadapan dengan negara.[6]

Menurut kelompok kami, CS atau MM adalah suatu konsep sosial kemasyarakatan yang mandiri dan independent dimana elemen-elemen pendukungnya memiliki kemampuan (capability) untuk merumuskan dan berperan aktif dalam menjalankan suatu tujuan bersama diluar konteks pemerintahan dan kenegaraan yang baku.[7]

Masyarakat Madani dan Lingkungan Hidup dalam contoh kasus Illegal Logging

Masyarakat Madani merupakan cita-cita bersama Bangsa dan Negara yang sadar akan pentingnya suatu keterikatan antar komponen pendukungnya dalam terciptanya Bangsa dan Negara yang maju dan mandiri. Dalam mewujudkan cita-cita tersebut, masyarakat madani sejatinya sadar dan peduli terhadap lingkungan hidup sebagai tonggak pembangunan yang berkelanjutan (yang berwawasan lingkungan) yang menyejahterakan kehidupan antargenerasi, disamping upaya pengentasan kemiskinan, peningkatan daya saing, dan kesiapan menghadapi kecenderungan globalisasi.

Dalam contoh kasus yang kami angkat adalah mengenai kasus illegal lodging di Indonesia yang semakin marak dieksploitasi oleh berbagai kalangan, baik dari kalangan dalam negeri maupun dari luar negeri. Sebenarnya kasus illegal lodging bukan kasus baru dalam sejarah kelam rusaknya lingkungan di negeri ini. Awal mula terjadinya kasus illegal lodging adalah ketika pada masa penjajahan kolonial dimana kayu dijadikan komoditas penting dalam mencukupi segala kebutuhan pihak-pihak tertentu yang terkait pada masa itu untuk menjadikan kayu sebagai salah satu produk pemenuh kebutuhan yang berharga. Melihat kondisi tersebut, beberapa kalangan yang belum mempunyai kesadaran lingkungan yang tinggi kemudian mulai memanfaatkan keadaan atas kebutuhan akan tersedianya kayu untuk kepentingan pribadi maupun kelompok dengan cara-cara melakukan penebangan yang tidak terkendali dan tidak sesuai standar baku, diluar kemampuan sumberdaya hutan tersebut untuk tumbuh dan berkembang kembali. Inilah yang menjadi awal terjadinya kasus illegal lodging di Indonesia.

Melihat sinyalemen semakin menipisnya pasokan sumberdaya hutan tersebut, membuat para ahli dan pejabat pemerintahan pada masa itu menetapkan regulasi-regulasi yang mengatur pemafaatan, pengelolaan, distribusi dan pelestarian sumberdaya hutan khususnya kayu di Indonesia demi  menjaga agar pasokan kayu tetap terkontrol dan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka akan sumberdaya hutan tersebut. Dengan diterapkanya sistem regulasi yang ketat pada masa tersebut, mengakibatkan jumlah penebangan hutan untuk diambil komoditas kayunya semakin terkontrol dan kasus illegal lodging cenderung menurun meskipun tetap terjadi kasus penebangan liar skala dalam kecil.

Tetapi selepas masa penjajahan tersebut, pemanfaatan sumberdaya kayu hutan di Indonesia mulai berngsur-angsur naik kembali akibat tidak diterapkannya lagi regulasi-regulasi yang bersifat ketat warisan masa penjajahan tersebut, demi memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri serta permintaan akan kayu hutan dan produk-produk turunan. Hal tersebut dilakukan oleh pemerintah dalam usahanya menaikan devisa negara yang baru saja merdeka tersebut. Tetapi meskipun demikian, pemerintah pada masa itu (hingga saat ini)  masih berupaya membuat dan menerapkan peraturan-peraturan pengganti yang sifatnya dirasakan oleh beberapa kalangan baik masyarakat, akademisi, para ahli dan pengamat kebijakan tidak tegas dan tidak mampu memberi efek jera bagi para pelaku kejahatan lingkungan tersebut. Dan pada akhirnya kasus yang sama kembali menimpa Bangsa ini. Permintaan akan kebutuhan kayu yang besar menimbulkan keinginan beberapa pihak memanfaatkan dan menggunakan cara-cara illegal yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam usaha mendapatkan keuntungan-keuntungan semata dan melupakan dampak ekologis yang terjadi akibat penebangan dan pemanfaatan hasil hutan khususnya kayu yang tidak terkendali dan tidak sesuai aturan yang berlaku.[8]

Dari gambaran dan contoh kasus yang telah dipaparkan, terlihat betapa lemahnya mekanisme peraturan serta kesadaran semua pihak akan isu lingkungan hidup khususnya mengenai illegal lodging di Indonesia. Kasus-kasus yang terjadi seringkali bagaikan lingkaran setan yang saling berputar-putar dalam konteks keterkaitan yang saling berhubungan. Di satu sisi pemerintah sebagai pengambil  kebijakan menginginkan terciptanya suatu kondisi lingkungan hutan yang lestari (sustainable forest), tetapi di lain sisi pemerintah harus memenuhi permintaan akan ketersediaan kayu dalam usaha menaikan pendapatan negara. Dan hal ini makin menjadi dilema ketika pemerintah kesulitan dalam mengawasi dan menerapkan peraturan dan perundang-undangan yang tegas dalam rangka menciptakan suatu management hutan lestari (sustainable forest management) pada pihak-pihak yang terkait khususnya bagi para pelaku illegal lodging. Dan diluar komponen pemerintahan pun kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan pun juga masih rendah, yang memperparah kondisi bangsa ini.

Dalam hal inilah peran Masyarakat Madani sangat dibutuhkan. Kita menyadari bahwa Masyarakat Madani identik dengan masyarakat yang sadar dan peduli akan suatu hal yang berkaitan dengan kepentingan bersama dan dalam cakupan antargenerasi, yang dalam hal ini difokuskan mengenai lingkungan hidup. Maka untuk itu, masyarakat yang mulai sadar akan pentingnya arti kelestarian lingkungan diharapkan mampu menjadi salah satu faktor penggerak dan turut berpartisipasi mewujudkan transformasi bangsa menuju masyarakat yang kita dambakan tersebut. Dan kita bisa melihat usaha-usaha menuju ke arah tersebut semakin terbuka lebar. Tapi itu semua harus dilandasi juga dengan kesadaran semua komponen bangsa, beberapa diantaranya adalah komitmen dalam menaati peraturan-peraturan yang telah ditetapkan tanpa pandang bulu, turut berperan aktif dalam mengkritisi kebijakan yang dibuat oleh pemerintah yang dirasa perlu untuk dikritisi tanpa ada suatu niatan buruk,  serta selalu mendorong berbagai pihak untuk turut berperan serta dalam menjaga dan melestarikan lingkungan demi masa depan kita semua.

Penutup

Sesungguhnya kehadiran Masyarakat Madani sebagai sebuah kenyataan, sebenarnya telah menandai meledaknya semacam “revolusi intelektual” , yaitu meningkatnya kesadaran warga negara dalam menjalankan hak dan kewajiban secara independen. Dan sebenarnya model masyarakat dengan otononi yang relatif kuat itulah yang dapat mejamin berkembangnya demokrasi, walaupun Masyarakat Madani tersebut bukanlah suatu syarat mutlak untuk membangun demokrasi. Dengan kata lain, “ Masyarakat Madani Tanpa Negara, Anarkis…. Negara Tanpa Masyarakat Madani, Otoriter atau Totaliter…”[9]

.


[1] Lihat Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani, “Konsep Tentang Masyarakat Madani ”, dalam Transformasi Bangsa Menuju Masyarakat Madani . hlm.1

[2] kutipan Adi Suryadi Culla, “Masyarakat Madani: pemikiran, teori, dan relevansinya dengan cita-cita Reformasi”  (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada), hlm.4

[3] Lihat Ernest Gellner, “Membangun Masyarakat Sipil, Prasyarat Menuju Kebebasan” (Bandung: Mizan,1995), hlm.1-232

[4] lihat Jean L.Cohen and Andrew Arato, “Civil Society and Political Theory” , (Massachusets: MIT Press,1992), hlm.vii-xxi dan 1-26

[5] lihat Muhammad AS Hikam, “Demokrasi dan Civil Society” (Jakarta: LP3ES, 1997), hlm.i+xvi – 249

[6] dikutip oleh Surya Adi Culla dalam bukunya “Masyarakat Madani: pemikiran, teori, dan relevansinya dengan cita-cita Reformasi” berdasarkan tulisan dari M.Ryaas Rasyid dalam Perkembangan Pemikiran Tentang Masyarakat Kewargaan dimana istilah civil society atau masyarakat madani diistilahkan oleh Ryaas Rasyid sebagai masyarakat kewargaan

[7] merupakan kelompok diskusi dalam perkuliahan Pendidikan Kewargaan yang mengusung tema “Civil Society” dan pernyataan ini merupakan hasil diskusi tersebut.

[8] asumsi dan statement yang terdapat dalam contoh kasus ini berdasarkan referensi-refensi dan telaah ilmiah dari materi perkuliahan “Dasar-Dasar Manajemen Hutan”  disampaikan oleh Ir.Djoko Suharno Radite, M.S

[9]kutipan Adi Suryadi Culla, “Masyarakat Madani: pemikiran, teori, dan relevansinya dengan cita-cita Reformasi”  (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada), hlm.24

14 June 2010 at 13:18 - Comments

Hello world!

Selamat datang di blog.ugm.ac.id. Ngebloglah dan curahkan pikiran anda disini. Silahkan menggunakan fasilitas ini dengan penuh tanggung jawab.

Admin blog akan melakukan peringatan apabila ada abusement/pelanggaran dalam penggunaan fasilitas ini.

selamat berkarya :)

5 June 2010 at 11:14 - Comments